Postingan

Gadis Padei (Sebuah risalah gadis Bangka)

Allahuakbar Allahuakbar... Allahuakbar Allahuakbar... Terdengar samar-samar suara adzan subuh yang sedang berkumandang, memecah gelapnya malam hingga menembus lelap tidurku. Aku bergegas berangkat dari tempat tidurku sembari meraba kacamata yang berada tepat di atas meja belajarku, menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan menunaikan sholat subuh. Di dapur, aku melihat ibu yang sedang membakar kayu yang ia ambilkan di hutan sore kemarin, kayu yang ia gunakan untuk memasak sehari-harinya. Dengan senyuman kecil ibu melontarkan sepatah kata kepadaku. “ selamat pagi anak gadis emak? ” aku hanya membalas perkataan ibu dengan senyuman kecil juga yang membuat otot-otot wajahku bekerja di pagi ini. Oh ya, nama ku Wulan. Aku dilahirkan oleh seorang mailakat tanpa sayap tepat 16 tahun yang lalu di tanah Wangka. Ketika usiaku 2 bulan bapak meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Bapak meninggal ketika tertimbun pasir ketika sedang berada di kolong TI (Tambang Inkonvensional)...

Memahami Kebohongan di Dunia Maya

Oleh: Alfin Dwi Rahmawan           Sejak pertengahan tahun 2015, proliferasi dan penyebaran berita bohong atau hoaks ( Hoax ), berita palsu ( Fake News ), dan ujaran kebencian ( Hate Speech ) semakin meningkat di Indonesia, dan terkhusus di ranah internet dan media sosial. Merujuk data dari kementrian Informasi dan Infomatika Republik Indonesia (Kemkominfo RI) tahun 2018 menyebutkan bahwa penanganan konten negatif pada 2017 meningkat 900 persen dibandingkan 2016. Peningkatan yang fantastis bukan?           Beberapa hoaks yang terjadi saat ini sengaja menyinggung sentimen suku, agama, ras dan antar-golongan (sara) sehingga mengakibatkan keresahan sosial dan memicu disintegrasi bangsa. Sebenarnya jika kita melihat perkembangan hoaks hingga saat ini kita dapat melihat bahwa fenomena ini selalu muncul ditengah   suhu politik yang memanas misalnya menjelang pilkada (Pemilihan Kepala Daera...