Contoh Cerpen
Assalammualaikum WR WB...
Sebenarnya disini adalah sarana saya untuk menuangkan beberapa pikiran saya setelah jenuh tentang tugas-tugas kampus ataupun kegiatan-kegiatan saya di luar kampus. okee langsung saja, disini saya menuliskan sebuah cerita pendek. Ya bisa di katakan untuk menambah contoh-contoh cerita pendek saja Haha
Ohh iya sekedar menambah pengetahuan saja saya akan menjelaskan apa sih itu Cerpen?
Cerpen adalah jenis karya sastra yang memaparkan kisah ataupun cerita tentang kehidupan manusia lewat tulisan pendek. cerpen juga bisa disebut sebagai karangan fiktif yang berisikan tentang sebagian kehidupan seseorang atau juga kehidupan yang diceritakan secara ringkas yang berfokus pada suatu tokoh saja.
Berawal Dari Buku
Namaku Doni
Kusuma, Aku sekarang duduk di kelas 3 SMA di salah satu SMA di kota
Pangkalpinang Bangka. Aku merupakan siswa pindahan dari salah satu SMA di kota
Depok, Dan baru menginjak satu minggu sekolah SMA di pangkalpinang.
Awal
cerita.............
Hari ini
adalah hari senin, Hari dimana segala rutinitas di mulai.
Tiba-tiba
saja alarm yang terletak di sebelah kasurku berbunyi, ku lihat jarum jam sudah
menunjukkan pukul 05.10. Segera aku bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air
wudhu, di belakang aku melihat sosok mbak Rani sedang memasak sesuatu (mbak
Rani adalah kakak tertua ku yang sekarang bekerja di salah satu kantor di kota
Pangkalpinang)
Aku langsung
melaksanakan sholat subuh dan kemudian melanjutkan sarapan di meja makan.
Setelah aku selesai
sarapan tiba-tiba saja Handphone ku berdering, “Hallo Assalammualaikum, ini
dengan siapa?” .Tanya ku.
“Waalaikumussalam,
ini ibu nak. Ibu make hp nya bik ijah” .jawab seseorang dari seberang
sana.
“Ohh ibu, iya bu ada apa? Pagi sekali
ibu menelpon Doni?” .Tanya ku kembali.
“kabar donni gimana? Baik-baik saja kan
disana?” .Jawab ibu.
“Alhamdulillah
bu baik-baik saja kok, kabar ibu sama bapak disana gimana?”
“Alhamdulillah,
Ibu sama Bapak baik-baik saja kok. Kamu betah-betah ya disana, jangan bandel,
jangan ngelawan mbak mu ya”
“Iya bu
tenang aja kok, oh iyaa aku mau siap-siap sekolah dulu bu, salam sama bapak ya”
“Oh iya nak,
Belajar yang rajin ya nak? Assalammualaikum....”
“Iya bu,
Waalaikumussalam” Sambil menutup telpon.
Segera
diriku bergegas untuk mempersiapkan peralatan sekolah dan mulai memasangkan
sepatu sekolahku.
Tiiiiit...
tiiiiiiit.... terdengar suara klason sepeda motor dari arah depan pagar
rumahku. “Siapa itu mbak?” Tanya ku kepada mbak ku
“Enggak
tau dek, coba deh liat” Kata mbak Rani kepadaku.
Doni...
Doniii... “Iya, siapa?”
“ini
aku Don, Rendy” jawabnya singkat. Rendy merupakan teman sekelasku sekaligus
tetangga ku yang baru saja ku kenal sekitar seminggu yang lalu.
“Oh
Rendy, iya kenapa Ren?” tangan ku sambil mengambil tas sandang ku yang berada
tak jauh dari tempat ku memasang sepatu.
“yuk
Don ke sekolah bareng” Ajakan Rendy kepada ku.
“Iya
Ren, tunggu ya”.....
“Mbak,
Doni berangkat dulu ya, Assalammualaikum” Sambil mencium tangan mbak Rani.
“iya
hati-hati ya Don, Belajar yang bener ya jangan banyak main”
“iya
mbak Rani yang cantik...” Jawabku dengan candaan.
Sesampainya
di depan parkiran sekolah ku lihat dari jauh seorang wanita berkerudung putih
sedang berbincang-bincang tepat di depan gerbang sekolah.
“Hoiii
Don!” Suara Rendy memecah lamunan ku. “Cepat turun, udah nyampe nih..”
“Oh,
Iyaa” Respon ku singkat.
Akupun
masih penasaran dengan sosok perempuan ayu bak perempuan-perempuan kraton jawa yang
ku lihat tadi, Jilbab panjangnya seakan mengingatkan ku pada sosok perempuan
yang melahirkan ku.
Sesampainya
di kelas aku mulai membaca sebuah novel yang sering ku baca di rumah, dan
merupakan kado perpisahan dari Bapakku ketika aku akan pindah ke Bangka.
“Don
entar sore temenin kita ya ke gramedia? Sekaligus kita nyari materi buat tugas
kelompok kita” Sapa seseorang dari arah belakang ku.
“jam
berapa Del?” (Della, merupakan teman kelompok belajar ku di kelas)
“Ehhh...
Kira-kira jam 4 selesai sekolah gimana?”
“Jadi
lah jam segitu men nek? Kan dek panes agik ge men sore- sore cemtuh” Ceplos
Hendri yang merupakan orang asli Petaling yang bersekolah sama di SMA ku.
“Ngapa
emang e? Ka takut item ok men keluar pas anget-anget Haha...” ceplos Rini yeng
sontak membuat Rendy dan Della tertawa.
“Yaudah
entar selesai sekolah kita langsung pergi ya, kita kumpul di depan gerbang
sekolah?” Lanjut Della dalam tawanya.
“Oke!!”
jawab kami serentak.
Teeeeeeeeeeet....
Teeeeeeeeeeeeeeet....
Bel
pulang berbunyi, Jam pelajaran hari ini pun telah usai. Kami mulai bersiap-siap
untuk pergi menuju tempat yang telah kami rencana di awal pagi tadi yaitu
Gramedia. Setelah kami semua berkumpul di depan gerbang, tanpa sengaja aku pun
kembali melihat sosok perempuan yang tadi pegi ku lihat, dia melintas dengan
motor maticnya tepat di depan ku. Dan ketika dia melintas ada sebuah buku jatuh
tak jauh dari jalan yang akan akan aku lewati.
“Heeeey,
yang berkerudung putih buku kamu jatuh!” Teriak ku untuk memanggil perempuan
itu, Tapi percuma. Teriakan ku tak sampai di telinganya.
Ku
ambil buku itu, dan ku lihat namanya. Ternyata perempuan berjilbab syar’i itu
bernama Umi dan merupakan siswi kelas 2 SMA jurusan mipa.
“Ren,
kamu kenal sama perempuan tadi enggak? Yang punya buku ini?” Tanya ku ke Rendy.
“Ohh..
Itu Umi don, Dia anggota rohis sekaligus Wakil ketua osis kita. Eh bukunya
jatuh ya? Kamu simpen aja dulu don, besok pagi-pagi kita anterin ke kelas dia”
“Oke
Ren” Jawabku singkat.
Kami
pun langsung bergegas menuju Gramedia.
Setelah sejam
lebih kami melihat-lihat buku dan ku lihat juga jam tanganku sudah menunjukkan
pukul setengah 6 kurang 15 menit kami langsung balik karena sebentar lagi sudah
waktunya magrib.
Rendy pun
mengantarkan ku balik ke rumah, sesampainya di rumah ternyata mbak ku belum
balik dan aku langsung bergegas mandi dan mengambil air wudhu untuk
bersiap-siap melaksanakan sholat magrib.
Setelah aku
selesai melaksanakan sholat aku menelpon mbak ku untuk menanyakan posisi dia
sekarang.
“Hallo
Assalammualaikum mbak??”
“Iya
waalaikumussalam, Kenapa Don?”
“Mbak
sekarang dimana?”
“Ohh iya,
mbak tadi lupa ngabarin kamu kalo hari ini mbak lembur di kantor. Banyak
kerjaan yang harus di kerjain, di bawah tudung saji embak udah siapin lauk
untuk kamu makan. Mbak kayanya sekitaran jam 10 baru balik”.
“Iya mbak,
Gak papa kok. Kirain doni mbak kemana”
“Hahaha..
enggak kemana-mana kok don, mbak memang lagi banyak kerjaan. Yaudah kamu makan
malam sana gih, mbak mau lenjutin kerjaan kantor”.
“Oke mbak,
Assalammualaikum”
“Waalaikumussalam”
Setelah tadi
menelpon mbak aku merebahkan badan ku ke atas kasur, sekilas teringat tentang
sosok perempuan yang hari ini sudah 2 kali aku melihatnya. Aku segera membuka
isi tasku, dan langsung mengambil buku yang merupakan buku karangan Abdoel muis
yang berjudul “Salah Asuhan”. Sepertinya dia merupakan perempuan yang sangat
menyukai sastra.
Dia
benar-benar mengingatkan ku akan sosok anak perempuan tetangga kami ketika kami
sekeluarga masih tinggal di Pangkalpiang, Seorang anak perempuan yang selalu
menjadi teman sepermainanku di waktu kecil sebelum aku melanjutkan SD ku di
kota Depok.
Keesokan
harinya.....
Seperti pagi
sebelumnya. Aku tak lupa untuk melaksanakan sholat subuh terlebih dahulu
sebelum sarapan pagi bersama mbak Rani. Dan hari ini akulah yang akan menjemput
Rendy, aku pergi ke rumah dia dengan waktu yang cepat karena kalau tidak dialah
yang bakal menjemputku.
Tiiiiiit....
Tiiiit...(suara klason motorku) Rendy,
Assalammualaikum...
“Iya
waalikumsalam...”
“Rendy ada
bu?” Ternyata yang membuka pintu ialah buk anik, yang merupakan ibu dari Rendy.
“Oooh, nak Doni
ok? Tunggu luk ok ibu manggil Rendy luk, Die tengah besalin agik e”
“Iyaa buk”
Jawabku singkat.
Setelah
menunggu kira-kira kurang lebih 8 menit ku lihat Rendy keluar dari rumahnya.
“Laaah, kok
kamu yang jemput aku Don? Aku kan bisa bawa motor sendiri” sambil ngoceh gak
jelas.
“Udah gak
masalah kok, yukk langsung naik. Kan kita mau nyamperin Umi anak permpuan
kemarin itu”
“Iya..
iyaa.. Yukk langsung jalan mas gojek” Dengan nada candaannya.
Setelah sampai di sekolah kami langsung mencari kelas anak perempuan kemarin, dan akhirnya kami bertemu dengan kelasnya yaitu kelas XI MIPA 3. Disana tepat di depan meja guru kami melihat seorang pempuan yang sama seperti kemarin, hanya saja dia menggunakan kacamata dan sedang membaca sesuatu. Yaa ternyata benar dia seorang penggila sastra, setelah di samperin dia sedang membaca sebuah Novel yang berjudul Surapati yang merupakan karangan sastrawan terkenal indonesia yaitu Abdul Muis
“Assalammualaikum,,
Maaf mengganggu kegiatannya. Saya Doni, kemarin enggak sengaja nemuin Novel ini
jatuh”
“waalaikumussalam,
Oh iyaa.. pentesan kemarin aku cari-cari di tas bukunya gak ada. Makasih ya
kak” Sambil melemparkan senyuman hangat kepada kami.
Setelah itu
kami langsung menuju kelas.
Teeeeeet...
Teeeeeet....
Bel
istirahat mulai berbunyi, pertanda waktu istirahat untuk kami telah di mulai.
Aku masih saja kepikiran tentang gadis itu, apakah dia Ani teman sepermainanku
dulu. Ahh sudahlah, aku berencana untuk mengajak Rendy ke tempat perpustakaan
sekolah untuk mencari informasi tentang anak itu.
“Ren,
temenin aku yuk ke perpustakaan?”
“Ngapain
Don?”
“Ah..
sudahlah ikut saja”
Sesampainyanya
di perpustakaan, aku langsung menuju komputer tempat pencarian nama siswa, dan
segera aku mengetik nama di komputer tersebut. Dan tanpa ragu-ragu langsung
saja aku menulis “UMI” dalam kolom pencarian tersebut beserta kelasnya. Yaa
akhirnya aku menemukan namanya, Umi Apriliani. Yang benar saja ternyata
alamatnya tepat pada alamat rumah lama ku dulu.
Tanpa
menunggu lama-lama aku segera menuju kantin dimana Umi sedang makan siang
disana.
“Ehhh, Umi
maaf ganggu. Kakak boleh duduk disini kan?”
“Ohhh, Boleh
kok kak”
Tanpa basa-basi
aku langsung menanyakan apakah nama kecil dia dulu adalah Ani.
“Dek, kamu
tinggal di Gabek ya?”
“Iya kak,
kok kakak bisa tau?”
“Ahhh, tadi
enggak sengaja liat alamat kamu di buku pelajaran kamu dek”. Sambil bersipuh
malu di hadapannya. “Apakah nama kecil kamu dulu itu Ani dek?”
“Ehh iya
kak, dulu waktu kecil aku sering di panggil Ani”
“Ternyata
kamu memang bener-bener temen kecil aku Ni. Ini aku Doni Kusuma, anaknya buk
titik yang dulu kita pindah ke Depok”
“Masyaallah,
Ternyata kamu Doni... Kamu apa kabar Don, udah lama gak berjumpa”
“Alhamdulillah,
aku baik-baik saja kok” Sambil mengusap sedikit air mata yang keluar dari mata
ku.
“Wiiih, pada
reuni ternyata kalian” Suara Rendy yang memecah suasana haru kami.
Akhirnya
setelah sekian lama tidak berjumpa, aku menemukan sosok perempuan kecil centil
dulu yang sekarang telah menjelma menjadi perempuan solehan nan cantik yang tepat berada di hadapan ku.
Sekian dan Terimakasih untuk waktunya telah membaca Blog saya.
"A mediocre person tells. A good person explains. A superior person demonstrates. A great person inspires others to see for themselves."
"Orang biasa hanya bicara. Orang yang baik akan menjelaskan. Orang yang lebih tinggi akan menunjukkan. Orang hebat akan menginspirasi orang lain untuk melihat diri mereka sendiri."
Sebuah kalimat singkat yang selalu memotivasi saya untuk selalu membuat sebuah karya, Salam hangat :)
Komentar
Posting Komentar