Bagaimana Nasib Bahasa Indonesia?
Oleh:
Alfin Dwi Rahmawan
(1)Kami
putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air
Indonesia (2)Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa
Indonesia (3)Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa
Indonesia. Sumpah pemuda 28 Oktober 1928 sebagai langkah lanjutan terhadap
kedudukan Bahasa Indonesia sebagai “bahasa
persatuan” melalui isi sumpah pemuda. Pemuda menjadi pendiri bangsa dan
negara Indonesia pada waktu itu menjunjung tinggi bahasa Indonesia, Bahasa yang
mempersatukan daerah-daerah di Nusantara dari Sabang sampai Marauke. Dan
dipertegas dengan Undang-Undang Kebahasaan (UU 24/2009).
Tapi
kita lihat saat ini betapa bangsa kita tidak lagi menghargai bahasa
nasionalnya, bahasa negaranya. Banyak masyarakat kita yang tidak menggunakan
bahasa Indonesia yang baik dan benar. Disamping itu dunia pertelevisian saat
ini banyak menampilkan sinetron yang dapat dikatakan mengucilkan Bahasa
Indonesia karena penggunaan bahasa gaul dan bahasa seenaknya yang disiarkan
melalui televisi yang sekarang telah masuk ke pelosok-pelosok yang terpencil
sekalipun. Seperti yang sekarang ini banyak terjadi dpertelevisian Indonesia,
Stasiun televisi dibiarkan beringgris-inggris dalam berkata maupun menamakan
acara-acaranya. Dan mirisnya sedikit sekali siaran yang menyiarkan pengetahuan
tentang berbahasa.
Bahasa
asing kian merasuk didalam lapisan masyarakat Indonesia, terutama mereka yang
tinggal di kota-kota. Mereka dengan bangganya menggunakan bahasa yang
seenaknya, dan terkadang menyelipkan ungkapan menggunakan bahasa inggris.
Iklan-iklan yang tersebar di media cetak maupun media elektronik menyelipkan
hal yang sama, sampai-sampai iklan yang dipajang di tempat umumpun sebagian
menggunakan bahasa asing.
Pengajaran
terhadap bahasa di sekolah-sekolahpun masih sekedar alakadarnya saja, kurikulum
mengajarkan bahasa di sekolah-sekolah dengan menitikberatkan pengetahuan
tentang bahasa, dan sangat kurang sekali kepada kemampuan pemahaman berbahasa.
Siswa SD mengerti terhadap Subyek dan
Predikat, tetapi buat apa jika mereka
tidak dapat membentuk kalimat secara baik dan benar? Dan institusi-institusi
didalam negeri pun belum mengedepankan penggunaan bahasa Indonesia di dalam
lingkungan institusinya.
Bahasa
Indonesia juga dapat tersudutkan ketika saat ini semua kalangan yang lebih
bangga beringgris-ria, bahkan kalangan
elite yang diidentikkan dengan kaum Intelektual menggunakan bahasa campuran
dengan kata-kata dan kalimat Inggris. Beringris-ria seperti itu kian menjadi
mode dikalangan elite dan tidak dipungkiri juga oleh Kalangan pemerintahan
ketika didalam forum-forum. Seperti halnya yang dilakukan oleh mantan Kepala
Negara kita, Bapak SBY yang sering sekali menggunakan kata-kata, ungkapan, dan
kalimat dengan menggunakan bahasa Inggris disetiap forum yang beliau hadiri.
Dan juga ada kepala daerah Sumatera Selatan yang mengatakan Bahasa Inggris
adalah bahasa kedua mereka, bahkan dia mengharuskan setiap pegawainya melapor
mengggunakan bahasa inggris, jika tidak mereka diharuskan keluar. Bukankah
dengan sikap para kaum elite ini mencerminkan jati diri mereka yang tidak
menghormati bahasa nasionalnya.
Kita
semua dapat berkaca dari presiden dan wakil presiden pertama kita, Bung Karno
dan Bung Hatta yang sangat bangga menggunakan bahasa Indonesia. Mereka dengan
bangganya menggunakan bahasa Indonesia di dalam forum-forum Internasional,
tanpa menyelipkan bahasa asing kecuali mereka menambahkan bahasa Belanda atau
(bahasa Inggris) jika istilah-istilah yang belum ada padanannya dalam Bahasa
Indonesia yang mereka ucap. Padahal kita semua tau, dua tokoh penting ini
memiliki kemampuan berbahasa yang luar biasa dengan banyak menguasai bahasa
asing, seperti halnya presiden Soekarno yang menguasai lebih dari 5 bahasa, tetapi
mereka tetap menunjukan rasa hormat mereka dengan tetap menggunakan bahasa
Nasional dan bahasa Negaranya.
Secara
tidak langsung apa yang telah kita lakukan dengan bangga atau mudahnya
menggunakan bahasa asing kita telah merendahkan bahasa nasional kita sendiri. Kita
seharusnya belajar dari orang jepang yang tanpa malu menggunakan bahasa mereka
ketika berada di forum-forum Internasional, dan mereka juga tidak
segan-segan berbicara menggunakan bahasa
mereka ketika para turis datang mengunjungi negara mereka. Apa yang dilakukan
oleh orang Jepang merupakan langkah mereka untuk memperkenalkan bahasa mereka
dan juga turut menghormati bahasa nasionalnya, dengan seperti itu para turis
dituntut untuk mempelajari bahasa mereka. Bukannya seperti kebanyakan orang
Indonesia yang menggunakan bahasa asing ketika para turis datang mengunjungi
Indonesia.
Semerawutnya
penggunaan bahasa saat ini menjadi renunang kita, apakah kedudukan bahasa
Indonesia kita saat ini sudah tergeser oleh bahasa Inggris maupun bahasa Gaul.
Saya bukanlah seorang ahli bahasa, saya tidak dapat mengubah kemelut bahasa
yang sedang melanda bahasa ini seorang diri. Mengembangkan dan melindungi
bahasa bukan hanya tugas yang dipikul oleh Pusat Bahasa, Guru Bahasa Indonesia,
Duta Bahasa ataupun pemerintahan yang bertalian dengan bahasa. Kita semua dapat
ikut andil dalam menjaga kedudukan bahasa Indonesia. Untuk itu kita tumbuhkan
rasa sikap menjunjung bahasa Indonesia sebagai langkah awal kita untuk menjaga
lestarinya persatuan berbahasa kita. Kita boleh menguasai bahasa asing, dan
boleh juga kita melestarikan bahasa daerah tapi jangan sampai kita melupakan
Bahasa Indonesia.
CASINO ONLINE | JT Marriott Center, BW Marriott
BalasHapusJT 보령 출장안마 Marriott 속초 출장샵 Center, BW 동두천 출장샵 Marriott Center, 의정부 출장안마 BW Marriott Center, BW Marriott Center, BW Marriott Center, BW Marriott Center, BW Marriott Center, 과천 출장마사지 BW Marriott Center, BW Marriott Center, BW Marriott Center