Dampak Sosial Media Bagi Kesehatan Mental
Pada awal
Oktober 2019 kemarin kita mendengar mantan personil girlband F(x) sekaligus
artis Korea Sulli ditemukan tidak bernyawa di kediamannya di kawasan Seongnam, Provinsi Gyeonggi, Seoul
Selatan. Sulli ditemukan oleh seseorang yang merupakan salah satu anggota dari
agensinya sendiri, yaitu SM Entertainment.
Apakah ada kaitannya
kematian Sulli dengan permasalahan mental dan media sosial? Ya, tentu saja ada
kaitannya. Sejak kasus kematian Sulli mulai muncul di permukaan, banyak media
yang mengaitkan kematian artis cantik Korea ini dengan kejamnya kehidupan media
sosial. Hampir dari semua pemberitaan di lini masa baik media cetak maupun yang
tersebar secara daring menampilkan pemberitaan Sulli dengan melibatkan para netizen yang diduga ikut menjadi
penyebab bunuh dirinya Sulli.
Seperti halnya situs
berita daring tirto.id yang menampilkan pemberitaan yang dipublish pada tanggal 17 Oktober 2019 dengan judul yang bertajuk
“Bunuh Diri Sulli dan Kejamnya Jempol Warganet Korea”. Tirto mencoba
menampilkan cerminan perilaku seksis yang dilakukan oleh para warganet Korea ke
sosial media para artis K-Pop dan tak terkecuali Sulli.
Mengingat masuknya
revolusi industri 4.0 dan juga pesatnya perkembangan informasi mendorong
individu atau kelompok untuk dapat menunjukan eksistensinya di ruang-ruang siber, seperti halnya beberapa platform seperti Instagram, Twitter,
Facebook atau platform lainnya.
Dewasa ini, orang-orang tanpa segan untuk menunjukkan siapa dirinya kepada khalayak
ramai melalui dunia maya dan seakan-akan mereka tidak memiliki ruang privasi
tersendiri.
Apa yang sebenarnya
terjadi dengan Sulli merupakan sebuah tamparan keras bagi beberapa kasus
perundungan di media sosial, atau yang sering kita sebut dengan cyberbully. Perilaku-perilaku
perundungan di media sosial ini memiliki dampak yang begitu luar biasa bagi
psikis seseorang seperti adanya kecemasan ataupun depresi yang mendalam.
Bukan hanya perilaku
cyberbully saja yang dapat membahayakan kesehatan mental seseorang. Kecanduan
berselancar di sosial media juga dapat membahayakan kesehatan mental hingga
membuat otak kelelahan.
Efek buruk media sosial
bagi kesehatan mental berdasarkan sumber National
Center for Biotechnology Information (NCBI) AS & Sicialnomic
menyebutkan setidaknya terdapat 5 dampak negatif yang ditimbulkan. Yang pertama
merasa tak aman dan tak percaya diri, muncul sikap membanding-bandingkan isi
postingan dengan kondisi diri sendiri. Hal ini menciptakan sebuah kondisi
dimana kita memiliki sifat ketidakpercayaan diri yang menyebabkan sifat
agresif.
Munculnya kecemasan
sosial, pecandu media sosial rata-rata sulit untuk berinteraksi dengan baik di
dunia nyata. Hal ini sejalan dengan pandangan para sosiolog yang mengatakan
bahwa masyarakat itu dibagi menjadi dua kelompok masyarakat. Yang mana
masyarakat terbagi menjadi real-community
dan juga cyber-community. Secara
nyata kehidupan masyarakat manusia di dunia nyata dapat disaksikan dengan apa
adanya. Sedangkan kehidupan masyarakat maya adalah sebuah kehidupan masyarakat
manusia yang tidak dapat secara langsung diindera melalui pengindraan manusia,
namun dapat dirasakan dan disaksikan sebagai sebuah realitas. Sehingga secara
tidak langsung masyarakat dunia maya melakukan proses-proses sosial dan interaksi
di dalam sebuah jaringan, dan mereka merasa nyaman melakukan itu ketimbang
berinteraksi langsung di dalam dunia nyatanya.
Mudah lelah dan stress, para
pecandu sosial media dalam sebuah riset yang dipublikasikan dalam Journal of Adolescence pada Agustus
2016, rata-rata memiliki kualitas dan kuantitas tidur yang buruk. Mereka
mengalami susah tidur dan bangun tepat waktu. sebagian lagi rela bangun tengah
malam hanya untuk melihat kabar dunia mayanya. Kebiasaan-kebiasaan seperti ini
meembuat otak mengalami kelelahan hingga mempengaruhi fisik secara tidak
langsung seperti kelelahan karena kekurangan waktu istirahat.
Tekanan emosi tersembunyi,
melarikan diri dari dunia nyata ke dunia maya membuat orang terbiasa hidup
dalam penyangkalan dan tekanan emosi. Orang-orang yang seperti ini biasanya
mereka yang menunjukkan sisi yang berbeda dari dunia nyatanya kepada orang
lain. Biasanya yang lazim ditunjukkan adalah “sisi menyenangkan dari diriku”
seperti halnya Sulli yang selalu menunjukkan sisi bahagianya dia walau sedang
dihadapkan dengan depresi berlebih.
Kemudian adanya tekanan
sosial dari lingkaran terdekat. Hal ini biasanya terjadi karena adanya tuntutan
dalam diri seseorang jika tidak “up to date” muncul kegelisahan dan
kekhawatiran yang berlebihan. Misalnya saja seperti remaja yang harus up to
date terhadap berita-berita fashion kekinian, cafe yang lagi ngehits atau hanya
sebatas mengikuti tren di media sosial.
Penggunaan media sosial
secara berlebihan tidak hanya mempengaruhi kesehatan mental, tetapi kesehatan
fisik. Kecemasan, tuntutan, hingga depresi yang berlebihan dapat mempengaruhi
aktivitas kita di dunia nyata. Bayangkan saja ketika kita melihat sebuah
unggahan yang muncul di beranda instagram yang menampilkan kehidupan yang serba
mewah seorang artis atau teman kemudian kita memandingkan diri kita dengan
mereka. Kondisi ini di dalam istilah Psikologi dapat disebut sebagai Social Comparison atau perbandingan
sosial. Perbandingan sosial ini adalah sebuah kecenderungan untuk merasakan hal
baik atau hal buruk dalam dirinya berdasarkan perbandingan dirinya dengan orang
lain, baik itu di dunia nyata maupun dunia mayanya.
Meminjam ungkapan Mark
Twain “Comparison is the death of joy”
atau dalam bahasa Indonesia perbandingan adalah kematian dari sukacita.
Seakan-akan Mark Twain ikut mendukung bahwa memandingkan diri merupakan proses
menuju kematian. Penelitian menemukan keinginan untuk saling membandingkan akan
memunculkan rasa iri hati, rendahnya kepercayaan diri hingga depresi. Jadi
tidak dapat dipungkiri penggunaan media sosial yang berlebihan dapat
menyebabkan gangguan kesehatan mental pada manusia.
Tak jarang ada orang-orang
melakukan tindakan untuk berpuasa dalam penggunaan media sosial, mereka-mereka
yang melakukan ini merupakan orang yang terlebih dahulu sadar akan dampak
negatif yang ditimbulkan oleh kecanduan media sosial ini. Selain dengan
berpuasa media sosial banyak hal-hal positif lainnya yang dapat kita lakukan
untuk menangkal pengaruh media sosial yang menyebabkan sakitnya kesehatan
mental kita.
1. Melakukan interaksi secara intensif dalam kehidupan
nyata.
Jika banyak orang
yang menggunakan media sosial untuk bersosialisasi, maka kita dapat melakukan
hal sebaliknya dengan bersosialisasi di kehidupan nyata untuk menggurangi
penggunaan media sosial secara berlebihan. Karena dengan banyaknya interaksi di
dunia nyata maka sedikit waktu bagi kita di dunia maya.
2. Berakhir pekan dengan keluarga, teman terdekat atau
sekadar melakukan Me Time.
Biasanya akhir pekan banyak dilakukan untuk berselancar
di media sosial hingga menghabiskan kouta internet. Akhir pekan bisa
dimanfaatkan untuk berpuasa media sosial dengan melakukan aktifitas dengan
keluarga atau hanya bersantai menikmati Me
time di rumah.
3.
Memfilter
pertemanan di media sosial.
Anda perlu menyaring beberapa teman anda di media sosial,
hal ini perlu dilakukan karena pertemanan di media sosial berbeda dengan
pertemanan secara langsung. Anda yang mengetahui secara pasti pertemanan
seperti apa yang anda butuhkan di akun media sosial anda.
4. Batasi dirimu dari konsumsi berita buruk
Boleh saja kita menerima informasi sebanyak-banyaknya
dari media sosial, tetapi kita perlu membatasi pemberitaan yang akan kita
terima. Tanpa disadari pemberitaan buruk atau bad news akan memberikan kecemasan terhadap apa yang dilakukan
sehari-hari.
5. Yang terakhir buktikan pada diri anda bahwa hidup lebih
bahagia tanpa media sosial.
Tidak bisa dipungkiri media sosial sebagai panggung luas
yang mempertemukan banyak orang yang menampilkan kehidupan mereka. Tetapi jika
dilihat media sosial sebagai indikator sebuah kebahagiaan itu merupakan
kebahagiaan yang semu. Yang artinya apa yang ditampilkan tak selalu
merefleksikan kondisi yang sebenarnya. Jadi buktikan pada diri sendiri bahwa
media sosial bukanlah jalan menuju kebahagiaan.
Jadi sering sekali kita
lalai menjaga kesehatan mental kita karena terlalu terobsesi dengan penggunaan
media sosial yang berlebihan. Memutus siklus kecanduan media sosial memang agak
sedikit sulit dilakukan, banyak psikolog yang menyarankan untuk memiliki jadwal
akses media sosial. Misalnya memiliki jarak dan waktu tertentu dalam sehari,
hal ini membantu kita untuk mengurangi penggunaan media sosial secara
berlebihan. Terutama yang paling tepenting lakukanlah hal-hal positif di dalam
dunia nyata yang memberikan manfaat bagi kehatan fisik dan mental kita.
Komentar
Posting Komentar